Hubungan Kesultanan Aceh dan Turki Usmani: Sejarah yang Jarang Diketahui

Ketika berbicara tentang hubungan Indonesia dan Turki, banyak orang mengira semuanya dimulai di era modern. Padahal, akarnya sudah tertanam hampir 500 tahun lalu, ketika Kesultanan Aceh Darussalam menjalin persahabatan dan aliansi dengan Kesultanan Turki Usmani (Utsmani), kekuatan Islam terbesar di dunia saat itu.

Hubungan ini meliputi pengiriman utusan, bantuan militer, persenjataan, ahli meriam, hingga pertukaran budaya dan keagamaan. Jejaknya bahkan masih bisa ditemukan di Banda Aceh hingga hari ini. Berikut kisah lengkapnya.

Latar Belakang: Aceh, Portugis, dan Jalur Rempah

Pada abad ke-16, Portugis menguasai Malaka (sejak 1511) dan berusaha memonopoli perdagangan rempah di Samudra Hindia. Kesultanan Aceh, yang sedang berkembang menjadi kekuatan besar di Selat Malaka, menjadi salah satu penantang utama Portugis. Aceh mengekspor lada dan rempah ke Timur Tengah melalui jalur Laut Merah, yang juga merupakan wilayah pengaruh Utsmani.

Kepentingan bersama ini, yaitu melawan dominasi Portugis dan menjaga jalur perdagangan, ditambah ikatan sebagai sesama kesultanan Islam, menjadi dasar kuat persahabatan Aceh dan Utsmani. Aliansi informal keduanya diperkirakan sudah terjalin setidaknya sejak tahun 1530-an.

Utusan Sultan Alauddin al-Kahhar ke Istanbul

Tokoh kunci dari pihak Aceh adalah Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar (memerintah 1539–1571). Untuk memperkuat hubungan dengan Utsmani, ia mengirim utusan ke Istanbul, ibu kota Utsmani, sekitar tahun 1562–1564, dengan permintaan bantuan untuk menghadapi Portugis.

Dalam suratnya kepada Sultan Suleiman I (Al-Qanuni), Sultan Aceh menyebut penguasa Utsmani sebagai Khalifah Islam. Sebutan ini menunjukkan bahwa hubungan keduanya bukan sekadar politik dan dagang, tetapi juga dilandasi ikatan keagamaan. Baca juga kisah Sultan Suleiman Al-Qanuni.

Ekspedisi Utsmani ke Aceh

Sultan Suleiman wafat pada 1566. Penerusnya, Sultan Selim II, melanjutkan kebijakan sang ayah dan memerintahkan pengiriman armada ke Aceh. Salah satu bukti penting adalah surat Sultan Selim II kepada Sultan Alauddin al-Kahhar yang bertanggal 16 Rabiul Awal 975 H (20 September 1567).

  • Armada besar yang dipimpin Laksamana Kurtoğlu Hızır Reis sebenarnya disiapkan untuk Aceh, lengkap dengan pasukan, pandai senjata, dan insinyur, tetapi kemudian dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman.
  • Meski demikian, sebagian kapal tetap tiba di Aceh pada sekitar 1566–1567, membawa ahli militer, teknisi, dan persenjataan.
  • Pengiriman bantuan dan hubungan militer berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

Bantuan terpenting dari Utsmani adalah teknologi pembuatan meriam. Para ahli Utsmani membantu Aceh memproduksi meriamnya sendiri, sehingga kekuatan militer Aceh meningkat pesat. Sejumlah catatan menyebutkan bahwa pada awal abad ke-17, Aceh telah memiliki sekitar 1.200 meriam perunggu berukuran sedang.

Legenda Meriam “Lada Sicupak”

Salah satu kisah paling terkenal dalam hubungan Aceh–Utsmani adalah Lada Sicupak (Lada Secupak). Menurut cerita rakyat Aceh, utusan Aceh membawa banyak lada sebagai hadiah untuk Sultan Utsmani. Karena perjalanan yang sangat panjang, yang tersisa saat tiba di Istanbul hanya secupak lada (takaran kecil). Meski begitu, Sultan Utsmani tetap menyambut utusan Aceh dengan hormat dan mengirimkan bantuan, termasuk sebuah meriam besar yang kemudian dinamai Meriam Lada Sicupak.

Kisah ini adalah tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, sehingga detailnya bisa berbeda dari catatan sejarah resmi. Namun, maknanya kuat: persahabatan dihargai bukan dari besarnya hadiah, melainkan ketulusan. Meriam yang dikaitkan dengan kisah ini kini tersimpan di Belanda, setelah dibawa pada masa Perang Aceh.

Jejak Turki di Gampong Bitai, Banda Aceh

Bukti fisik hubungan Aceh–Utsmani yang paling mudah dikunjungi hari ini berada di Gampong Bitai, Kecamatan Jaya Baru, Banda Aceh. Menurut tradisi setempat, Bitai adalah tempat tinggal para ahli militer dan ulama Utsmani yang datang ke Aceh dan menetap di sana, tanpa kembali ke Turki.

  • Di Bitai terdapat kompleks makam para ulama dan pejuang yang dikaitkan dengan Turki Utsmani, termasuk makam Teungku Chik di Bitai.
  • Tradisi lokal juga mengaitkan Bitai dengan pusat pendidikan agama dan pelatihan militer pada masa kesultanan.
  • Situs lain yang dikaitkan dengan ulama asal Turki adalah kompleks makam Syekh Baba Daud ar-Rumi (Teungku Chik di Leupeu) di Gampong Mulia, Banda Aceh.

Kompleks makam di Bitai juga sering dikunjungi pejabat Turki, sebagai simbol persahabatan yang telah berlangsung berabad-abad.

Abad ke-19: Aceh Meminta Perlindungan Utsmani

Hubungan Aceh–Utsmani kembali menguat pada abad ke-19, ketika ancaman Belanda semakin nyata.

TahunPeristiwa
1850-anSultan Alauddin Ibrahim Mansur Syah mengirim utusan ke Istanbul untuk memperbarui hubungan perlindungan dengan Utsmani. Aceh juga tercatat mengirim bantuan dana perang kepada Sultan Abdülmecid I.
1872–1873Aceh mengirim misi ke Istanbul yang dipimpin Habib Abdurrahman az-Zahir, meminta Utsmani memulihkan hubungan perlindungan secara resmi.
1873Belanda menyerang Aceh dan meletus Perang Aceh. Permintaan Aceh mendapat simpati luas di Istanbul, tetapi Utsmani tidak bisa melakukan intervensi militer karena tekanan dari negara-negara Eropa.

Permintaan perlindungan Aceh sempat diberitakan luas, baik oleh media di Istanbul maupun media Barat. Meski tidak berujung pada bantuan militer, peristiwa ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan batin antara Aceh dan Utsmani, bahkan setelah tiga abad.

Era Modern: Persahabatan yang Terus Berlanjut

Ikatan sejarah ini kembali hidup di era modern, terutama setelah bencana tsunami 2004. Turki menjadi salah satu negara yang aktif membantu pemulihan Aceh, termasuk membangun perumahan bagi warga terdampak dan fasilitas sosial. Sejak itu, interaksi masyarakat Aceh dan Turki semakin erat, mulai dari kunjungan pejabat, kerja sama budaya, hingga pertukaran pelajar.

Masyarakat Aceh bahkan pernah memperingati 480 tahun persaudaraan Aceh–Turki pada 2019, dihitung sejak tahun 1539. Kini, semakin banyak pelajar Aceh dan daerah lain di Indonesia yang memilih kuliah di Turki, meneruskan jembatan persahabatan yang dibangun para leluhur.

Garis Waktu Singkat Hubungan Aceh–Utsmani

WaktuPeristiwa
1530-anAliansi informal Aceh–Utsmani mulai terjalin
±1562–1564Utusan Sultan Alauddin al-Kahhar dikirim ke Istanbul
1566–1567Selim II memerintahkan bantuan; kapal Utsmani tiba di Aceh
20 September 1567Tanggal surat Sultan Selim II kepada Sultan Aceh
Awal abad ke-17Kekuatan meriam Aceh berkembang pesat
1850-anAceh memperbarui hubungan perlindungan dengan Utsmani
1873Perang Aceh meletus; Aceh meminta perlindungan Utsmani
2004Turki membantu pemulihan Aceh pascatsunami

Ingin mengenal para sultan Utsmani yang terlibat dalam kisah ini? Baca urutan 36 sultan Turki Usmani.

Kesimpulan

Hubungan Kesultanan Aceh dan Turki Usmani adalah salah satu bab paling menarik dalam sejarah Islam di Nusantara. Berawal dari aliansi melawan Portugis pada abad ke-16, berlanjut dengan utusan Sultan Alauddin al-Kahhar ke Istanbul, bantuan militer dan teknologi meriam dari Sultan Selim II, hingga permohonan perlindungan saat Perang Aceh pada 1873. Jejaknya masih bisa disaksikan di Gampong Bitai, dan semangatnya terus hidup dalam persahabatan Indonesia–Turki di masa kini, termasuk melalui ribuan pelajar Indonesia yang menimba ilmu di Turki.


Ingin menjadi bagian dari jembatan persahabatan Indonesia–Turki? Tim Fatih Gazi Education siap membantu pelajar dari Aceh dan seluruh Indonesia untuk kuliah di Turki, mulai dari memilih kampus hingga persiapan keberangkatan.💬 Konsultasi Gratis via WhatsApp ✦ Isi Formulir Pendaftaran


FAQ Seputar Hubungan Aceh dan Turki Utsmani

1. Sejak kapan Aceh menjalin hubungan dengan Turki Utsmani?
Aliansi informal diperkirakan sudah terjalin setidaknya sejak tahun 1530-an, dan semakin resmi melalui utusan Sultan Alauddin al-Kahhar ke Istanbul sekitar 1562–1564.

2. Siapa sultan Aceh yang mengirim utusan ke Istanbul?
Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahhar, yang memerintah Aceh pada 1539–1571.

3. Bantuan apa yang diberikan Utsmani kepada Aceh?
Ahli militer, teknisi, persenjataan, dan terutama teknologi pembuatan meriam, yang memperkuat militer Aceh dalam menghadapi Portugis.

4. Apa itu Lada Sicupak?
Kisah rakyat Aceh tentang utusan yang hanya bisa mempersembahkan secupak lada kepada Sultan Utsmani setelah perjalanan panjang, namun tetap disambut hormat dan dikirimi bantuan, termasuk meriam yang dikenal sebagai Meriam Lada Sicupak.

5. Di mana jejak Turki Utsmani di Aceh?
Salah satunya di Gampong Bitai, Banda Aceh, yang memiliki kompleks makam ulama dan pejuang yang dikaitkan dengan Turki Utsmani.

6. Apakah Utsmani membantu Aceh saat Perang Aceh melawan Belanda?
Aceh mengirim misi ke Istanbul yang dipimpin Habib Abdurrahman az-Zahir untuk meminta perlindungan. Permintaan ini mendapat simpati luas, tetapi Utsmani tidak dapat melakukan intervensi militer karena tekanan negara-negara Eropa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top